Social Icons

Rabu, 09 September 2015

Birokrat, Iya atau Tidak?

Apa yang dimaksud dengan Birokrat?
Menurut Wikipedia Indonesia, "Birokrat adalah anggota dari suatu birokrasi yang menjalani tugas-tugas administrasi dari sebuah organisasi yang seringkali merupakan cerminan atas kebijakan organisasinya, dalam bentuk ukuran besar maupun kecil. Namun biasanya istilah ini mengacu pada seseorang yang berada di dalam sebuah lembaga pemerintah."
Untuk singkatnya, birokrat ini dikenal sebagai sebutan untuk orang yang bekerja dalam instansi pemerintah.

Banyak persepsi buruk yang menimpa para birokrat ini, seperti malas, tidak ada hasil kerjanya, minim prestasi, dan segudang pikiran negatif lainnya. Padahal birokrat sebagai pelayan publik, banyak yang benar-benar memiliki prestasi dan bekerja dengan sungguh-sungguh melayani rakyat.
Contoh saja Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Ibu Siti Nurbaya Bakar. Beliau adalah sosok birokrat sejati, yang bekerja melayani rakyat lewat mejanya. Sejumlah penghargaan berhasil diraihnya, berkat pengabdian beliau, seperti Penghargaan Bintang Jasa Utama, Penghargaan Bintang Jasa Satya Lencana Wirakarya, dan lain-lain.

Ada juga sosok Gubernur Jambi yang menjabat sejak tahun 2010, Hasan Basri Agus, yang kini tengah mengikuti pemilihan kepala daerah di Provinsi Jambi untuk melanjutkan amanah dari rakyat. Beliau juga merupakan sosok birokrat sejati, seperti Menteri Siti Nurbaya Bakar. Sosok Hasan Basri Agus atau disingkat HBA, kelahiran Sungai Abang, Jambi, 30 Agustus 1953, juga memiliki karir sebagai seorang birokrat yang dimulai benar-benar dari dasar. 

HBA meniti karir sebagai seorang birokrat dengan menjadi Juru Ketik di Dinas Kesehatan, lalu beliau menyelesaikan sekolahnya di APDN, dan setelah itu HBA bekerja menjadi Sekwilcam Kecamatan Muara  Bulian, tahun 1988 HBA diangkat menjadi Kasubag Biro Tata Pemerintahan. Dan pada tahun yang sama, karena prestasinya ia diangkat menjadi Camat Perwakilan Muara Sebo Kabupaten Batanghari. Lalu di tahun 1989 HBA dilantik menjadi Camat Mersam Kabupaten Batanghari dan setahun berikutnya 1990 dia diminta menjadi Camat Muara Tembesi Kabupaten Batanghari. Karirnya kemudian terus beranjak naik, dan menduduki jabatan tertinggi sebagai PNS di kota Jambi, yaitu sebagai Sekretaris Daerah tahun 1999-2006.

Karirnya yang melesat naik bagai roket, adalah hasil dari kerja kerasnya sebagai seorang birokrat. Dan Hasan Basri Agus kemudian dipercaya oleh masyarakat Jambi untuk menjadi Gubernur Jambi yang ke-10, dan dilantik pada tanggal 03 Agustus 2010. HBA bahkan menjadi satu-satunya Gubernur Jambi yang pernah mendapat penghargaan Bintang Mahaputera Utama, sebagai tanda Penganugerahan Tanda Kehormatan Republik Indonesia atas jasa luar biasa di berbagai bidang yang bermanfaat bagi kemajuan dan kesejahteraan serta kemakmuran bangsa dan negara.

Dengan tangan dinginnya, HBA menjadi Gubernur Jambi yang memiliki terobasan-terobosan yang bermanfaat bagi rakyat Jambi melalui program dan kinerja kepemimpinannya. Ada Satu Miliar Satu Kecamatan yang dikenal dengan singkatan Samisake, yaitu program pengentasan kemiskinan di Provinsi Jambi, yang bentuk programnya sendiri melalui bedah rumah, jamkesmas, dan sertifikasi tanah masyaarakat. Banyak rakyat Jambi yang sudah merasakan sendiri bahagianya melihat rumah mereka dibedah sehingga menjadi layak dihuni, berkat program Samisake ini. Totalnya ada 267 Rumah yang sudah dibedah. Dan targetnya mencapai 5.000 rumah.

Masih banyak lagi program kerja HBA yang sudah menampilkan hasil yang nyata, untuk rakyat Jambi. Yang artinya konotasi negatif tentang birokrat mulai pudar, karena adanya tokoh-tokoh birokrat yang memang benar-benar tulus bekerja untuk melayani rakyat seperti Menteri Siti Nurbaya Bakar dan Hasan Basri Agus. Meskipun masih ada juga birokrat-birokrat nakal yang meracuni kehormatan menjadi pelayan rakyat. Namun setidaknya kita masih bisa percaya dan memiliki harapan pada birokrat Indonesia.

Jadi, kamu pilih iya atau tidak, untuk birokrat seperti sosok di atas?

Impian Tanpa Batas

Ketika kecil dahulu, kita semua masing-masing punya impian atau cita-cita. Anak pejabat, anak pengusaha, anak guru, anak petani, anak buruh, tanpa terkecuali, semua masing-masing punya impian. Sebut saja, dokter, presiden, astronout, guru, artis, insinyur, dan berbagai macam profesi lainnya pernah pernah menjadi cita-cita indah masa kanak-kanak.

Impian tersebut ada yg berhasil mewujudkannya, ada pula yang tidak dapat mempertahankan impian tersebut dengan berbagai macam alasan. Karena faktor ekonomi, lunturnya motivasi diri, ataupun faktor lingkungan yang memaksa mimpi anak-anak Indonesia harus berhenti begitu saja.

Faktor yang paling sering terjadi adalah karena faktor ekonomi. Banyak anak-anak Indonesia yang berasal dari kalangan menengah ke bawah, berharap untuk dapat memenuhi impiannya. Yang rasanya terlalu jauh untuk dapat dicapai karena besarnya biaya untuk menempuh pendidikan sesuai dengan impiannya. Untuk menjadi dokter misalnya, orang tua harus mengeluarkan uang ratusan juta agar anaknya bisa menyelesaikan pendidikan sebagai dokter, baik di Universitas Negeri apa lagi di Universitas Swasta. Sedangkan untuk makan saja, orang tua mereka harus banting tulang kerja keras agar dapur bisa mengebul.

Malangnya nasib anak-anak yang memiliki impian besar, tapi harus terhenti di tengah jalan. Hanya karena faktor ekonomi. Rasanya hanya anak-anak yang berasal dari golongan menengah ke atas saja yang dapat menggapai impiannya. Tapi.....

Tapi kini kita dapat melihat secercah harapan, setelah anak dari seorang tukang kayu bisa menjadi Presiden (Jokowi), penjual ikan di pasar bisa menjadi Menteri Perikanan (Susi Pudjiastuti). Dan kini anak dari seorang petani, yang berasal dari keluarga petani sederhana dan menggantungkan hidupnya dari hasil bertani bisa memiliki usaha percetakan CV Madani Utama dan menjadi Direktur di sana. Bahkan sekarang dia bisa menjadi Calon Wakil Gubernur Provinsi Jambi.
Namanya Edi Purwanto...

Pria kelahiran 4 Juli 1980 di Batu Putih Jambi ini, adalah anak pesantren yang berasal dari keluarga sederhana yang memiliki tekad dan kemauan yang besar untuk menggapai impiannya. Tidak semua anak bisa memiliki kemauan yang kuat dan mampu kerja keras. Perjuangan Edi Purwanto yang akrab dipanggil Mas Pur oleh masyarakat Jambi, berbuah manis, karena ia berhasil menyelesaikan pendidikan S2 nya di Universitas Indonesia, hasil dari keringatnya sendiri, sehingga dapat membiayai kuliah dan hidupnya sendiri.

Tidak puas dengan prestasi akademis, Edi Purwanto juga aktif dalam berorganisasi. Dia pernah menjadi Presiden BEM IAIN STS Jambi pada tahun 2003-2004, Bendahara Umum HMI Cabang Jambi 2001-2002, dan menjadi Kabid KU HMI Cabang Jambi pada periode selanjutnya 2002-2003. Dan banyak lagi prestasinya dalam berorganisasi. Dari sejumlah jabatan di organisasi yang Edi Purwanto pernah duduki, di sana ia belajar kepemimpinan. Bagaimana menjadi seorang pemimpin yang baik untuk masyarakat, dan pemimpin yang memahami kebutuhan rakyatnya dari berbagai macam golongan.

Dari kehidupannya yang berasal dari keluarga petani sederhana, dia belajar untuk menjadi pemimpin yang sederhana, merakyat, dan memahami yang dibutuhkan rakyatnya. Dari pengalamannya berorganisasi, ia belajar untuk menjadi pemimpin yang bijaksana, dalam memecahkan setiap permasalahan. Dari pendidikannya yang didasari oleh pendidikan di pesantren, menjadikan ia pemimpin yang berpegang teguh pada norma-norma agama, dan menjadikan agama sebagai pilar kepemimpinannya.

Sekarang, anak petani juga bisa memiliki impian kan? Semua anak-anak Indonesia sekarang boleh punya mimpi. Berkaca pada sosok-sosok hebat di atas yang dapat dijadikan panutan. Asal mempunyai kemauan yang kuat dan kerja keras, tak ada impian yang tidak dapat diraih.

Salam untuk anak-anak Indonesia, demi Impian Tanpa Batas!
 

Sample text

Sample Text

Sample Text

 
Blogger Templates