Social Icons

Sabtu, 23 Mei 2015

"PINJAM STEMPEL" - Martin Manurung

PILKADA 2015: Catatan Kecil 1 Malam Minggu, 23 Mei 2015

Beberapa hari yang lalu, saya sempat berbincang dengan seorang kawan tentang cerita-cerita lucu yang saya alami terkait penugasan yang diberikan oleh Partai NasDem kepada saya sebagai Koordinator Wilayah Sumatera Utara.

Kita mungkin sudah mengetahui bahwa Sumatera Utara adalah provinsi dengan jumlah Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) terbanyak untuk tahun ini. Duapuluh tiga (23) Pilkada akan dilaksanakan serentak pada 9 Desember 2015 nanti.

Tentu, menyeleksi para calon kepala dan wakil kepala daerah pada saat yang sama di berbagai kabupaten/kota itu tidak mudah. Sedikitnya 200 orang calon harus diseleksi berdasarkan pendaftaran yang masuk baik di tingkat DPD (Kabupaten/Kota), DPW (Provinsi) dan DPP (Pusat).

Perintah Ketua Umum Surya Paloh kepada saya sangat singkat: Martin, we play to win! Dan untuk itu Partai NasDem mempersyaratkan mekanisme survey sebagai referensi utama dalam melakukan seleksi.

Guna menjamin survey yang kredibel, maka Partai NasDem telah melakukan seleksi dan akreditasi lembaga Survey. Hasilnya, ada 4 lembaga Survey yang diterima oleh Partai NasDem, yaitu Charta Politika, Lembaga Survey Indonesia (LSI)/Indikator Politik, IndoBarometer dan PolMark.

Rupanya, tidak semua bakal calon kepala daerah yang 'nyaman' dengan persyaratan ketat itu. Mereka enggan melakukan survey. Padahal sejatinya survey ibarat "general check up" yang kita lakukan untuk kesehatan. Survey akan memberikan informasi sejauh apakah efektivitas sosialisasi yang telah dilakukan oleh para bakal calon selama ini.

Berbagai upaya dilakukan oleh para bakal calon untuk menghindari survey. Ada yang mengatakan bahwa mereka tidak perlu survey karena telah didukung etnis tertentu di kabupaten/kota itu, sehingga dengan proporsi besarnya etnis itu mereka pasti menang. Ada pula yang mengatakan bahwa mereka didukung kelompok Marga A yang bersaudara dengan Marga B dan C, sehingga mereka pasti menang. Berbagai macam klaim lainnya juga dibuat.

Terhadap berbagai klaim itu, saya hanya mengatakan bahwa etnis dan marga itu pasti akan tercakup dalam populasi yang tercakup dalam sample di survey tersebut. Dan bila ada yang tak tercakup, jumlahnya pasti hanya kecil, yaitu sejumlah margin error (di bawah 2 persen) yang telah ditetapkan oleh Partai NasDem kepada surveyor.

Nah, hal yang lucu adalah: ada pula para bakal calon yang coba untuk mengelabui survey. Mereka mencoba menghubungi lembaga survey dan mengatakan, "Tolong bikin survey saya hasilnya bagus, ya!"

Wah, mereka lupa bahwa lembaga survey yang telah diseleksi dan diakreditasi oleh Partai NasDem itu sebelumnya sudah mengikat kontrak untuk kredibilitas. Bila mereka berani mengutak-atik angka, maka mereka akan menerima akibat yang sangat buruk. Dan tentu saja, permintaan tersebut ditolak oleh keempat lembaga survey itu.

Ada lagi yang lebih lucu. Ada pula yang mencoba "meminjam stempel" dari lembaga survey yang diakreditasi oleh Partai NasDem. Permintaan itu tentu ditolak. Bahkan, DPP Partai NasDem langsung mencoret si calon yang mencoba "meminjam stempel" tersebut.

Mengapa langsung dicoret? Karena, ilmu pengetahuan (survey) pun dia mau tipu, apalagi rakyat!

Selamat malam Minggu, sampai berjumpa di catatan kecil Pilkada berikutnya!

Martin Manurung
Ketua DPP Partai NasDem/Korwil Sumatera Utara

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Sample text

Sample Text

Sample Text

 
Blogger Templates