Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro dalam sambutannya pada
acara Seminar Nasional Syariah dengan tema Integrasi Keuangan Syariah Menuju
Stabilitas Keuangan dan Pembangunan Berkelanjutan di Gedung Juanda I,
Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, pada Selasa 14 April 2015, mengatakan
bahwa Indonesia tengah berjuang melobi Islamic Development Bank (IDB) untuk
memuluskan rencana menjadi tuan rumah dari sebuah lembaga pembiayaan baru yang
mendanai pembangunan bidang infrastruktur namun berbasis syariah yang akan
dibentuk.
Menurut Menteri Bambang, kerjasama antara Indonesia dengan
IDB ini sangat penting, mengingat IDB kerap membantu sejumlah pembiayaan proyek-proyek
infrastruktur di negara-negara anggotanya.
Bank ini belum mempunyai nama baku, namanya bisa saja disebut
Islamic Investment Infrastructur Bank (Bank infrastruktur yang menggunakan
investasi berbasis syariah).
Bambang Brodjonegoro mengatakan jika mengenai langkah
pembiayaan, lembaga ini sama saja dengan lembaga pembiayaan lainnya seperti
World Bank, Asean Development Bank, dan lembaga multilateral lainnya.
Negara selain Indonesia yang mengajukan diri sebagai tuan
rumah pertama lembaga tersebut adalah Malaysia, Turki, dan Maroko. Tetapi
Malaysia kurang mendapat dukungan, sehingga diputuskan Indonesia bersama Turki
dan Maroko yang aman dan memungkinkan menjadi lokasi pertama pendirian lembaga
pembiayaan berbasis syariah yang akan dibentuk. Dan Indonesia menjadi pilihan
pertama.
Lanjut Menteri Keuangan, sektor syariah bisa memberikan
peranan yang lebih besar bagi perekonomian. Untuk Indonesia sendiri, dari segi
pembiayaan surat utang negara berbasis syariah (sukuk) sudah membuka
kemungkinan peran syariah dalam membiayai pembangunan berkelanjutan.
Sukuk merupakan instrumen yang tepat untuk membiayai sebuah
proyek. Oleh karenanya ini merupakan saat yang tepat agar sukuk rupiah ataupun
valas bisa berperan lebih besar dalam perekonomian. Selain itu, sukuk
juga membuka pemerataan dalam investasi karena memberikan kesempatan pada
perusahaan kecil untuk menikmati pembiayaan.
Indonesia sendiri membutuhkan dana Rp. 5.000 Triliun untuk
pengembangan infrastruktur hingga lima tahun ke depan. Dana tersebut akan
diperoleh dari APBN, BUMN, dan Swasta. Sehingga Indonesia membutuhkan sumber
dana lain untuk infrastruktur selain dari 3 sumber dana tersebut, maka butuh
dorongan yang lebih besar agar sukuk lebih berperan besar.
Karena ketinggalan infrastruktur adalah salah satu penyebab
pertumbuhan ekonomi Indonesia belum mencapai potensi maksimalnya yang dapat
tumbuh lebih dari 7%.
Menkeu Bambang mengatakan, "Kita sedang berupaya untuk
jadi tuan rumah. Kalau kita sudah jadi tuan rumah, Indonesia bisa jadi negara
terkemuka, karena kita sudah menerbitkan sukuk global, ada sukuk ritel yang
cocok dengan ide pemerataan, sukuk rupiah, dan nanti Insya Allah kita
punya bank infrastruktur berbasis sukuk. Kombinasi itu saya yakin akan
mendorong ekonomi berkelanjutan,"
Kita doakan saja agar lembaga pembiayaan infrastruktur
berbasis syariah tersebut bisa segera terbentuk, dan Indonesia bisa menjadi
tuan rumah pertama didirikannya.
Jika lembaga ini sudah terbentuk, Indonesia bisa mempunyai
sumber dana lain untuk pembiayaan infrastruktur. Sehingga terjadi percepatan
pembangunan infrastruktur, dan pertumbuhan ekonomi Indonesia pun bisa melaju
mencapai potensi maksimalnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar