Siapa yang tinggalnya di wilayah Jakarta Utara? Hayo
ngacung. Hehe. Pasti udah nggak asing dengan yang namanya banjir yah? Kadang
tidak hujan saja, bisa tiba-tiba banjir karena air pasang, atau banjir rob,
karena penurunan muka tanah yang terjadi tiap tahunnya sekitar 7,5 cm
dikarenakan pengambilan air yang cukup masif di Jakarta. Sekarang ini kapasitas
produksi PAM Jaya sekitar 18 Kubik per detik dengan cakupan layanan 55%.
Pengambilan air tanah tersebut sulit dibatasi selama suplai
air tanah untuk wilayah Jakarta masih terbatas. Oleh karena itu perlu ada
solusi yang bisa mengatasi penurunan muka tanah
di pesisir utara Jakarta dan dapat menyuplai pasokan air untuk Jakarta.
Nah, udah ada yang tau belum kalau di wilayah pesisir Utara
Jakarta akan dibangun Giant Sea Wall? Nama proyeknya sendiri National Capital
Integrated Coastal Development (NCICD). Ada tiga tahap pengerjaan NCICD, tahap
A, B, dan C. Saat ini NCICD tahap A sudah dalam tahap pengerjaan/implementasi. Pengerjaan
tahap A NCICD berupa penguatan dan peninggian tanggul pesisir utara Jakarta, berupa
reklamasi 17 pulau dan peninggian serta penguatan tanggul laut utara Jakarta
sepanjang 52 km. Tahap B, berupa pembangunan konstruksi tanggul terluar. Dan
Tahap C, pembangunan tanggul raksasa, atau yang lebih dikenal dengan nama Giant
Sea Wall.
Nah, belum lama ini pada tanggal 12-15 April 2015 lalu,
Menteri PU-Pera Basuki Hadimuljono mengikuti World Water Forum (WWF) di Korea
Selatan. Dari pertemuan tersebut Menteri Basuki menandatangani tiga MOU.
MOU pertama dilakukan dengan Kementerian Lingkungan dan
Infrastruktur Belanda, tentang keberlanjutan Proyek NCICD tahap B dan C. Pihak
Belanda nantinya akan membantu dari segi konsep, masterplan, kelembagaan, dan
rencana pendanaan.
MOU kedua dengan Korean International Corporation Agency
(KOICA) yang juga akan membantu proyek NCICD tahap B dan C, tapi dalam segi
data-data dan implementasinya.
MOU ketiga, dengan K-Water Company, sebuah badan usaha Korea
yang mengurusi penyediaan air di Korea. “Mereka mengelola bendungan-bendungan
dan air minum di Korea, mereka sudah punya Smart Water Management inisiatif.
Kita pingin punya, karena kita akan bangun 49 bendungan, dan kedepan ini akan
dibangun 250 bendungan.” Ungkap Basuki Hadimuljono.
WWF ini sendiri pertama kali diadakan pada tahun 1997,
setahun setelah World Water Council didirikan pada tahun 1996. WWF kemudian
diadakan setiap 3 tahun sekali, di negara-negara berbeda. Dan yang diadakan di
Korsel ini adalah WWF yang ke 7.
Pada November 2014 pemerintah telah memulai pembangunan
tahap awal tanggul raksasa atau Giant Sea Wall di area rumah pompa Waduk Pluit,
Penjaringan, Jakarta Utara. Peresmian itu dilakukan dengan pemancangan tiang
sepanjang 75 meter ke dalam laut.
Pembangunan NCICD ini sendiri diperkirakan akan menelan
biaya sekitar Rp 400 Triliun hingga Rp 500 Triliun.
Kita doakan saja agar proyek NCICD ini berjalan lancar,
sehingga Jakarta bisa bebas dari Banjir.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar